Selasa, 20 September 2016

Kamu dan Waktu



Betapa tak tertandingi ciptaan tuhan yang satu ini : Waktu. Pernah dengar teori relatifitas nya?. Orang bilang waktu itu ajaib, sihir!. Sampai begitu sakralnya, waktu dijadikan pedoman, banyak aturan ditetapkan berdasar waktu. Anehnya, saat kita bahagia waktu akan terasa sangat cepat, pun sebaliknya, waktu kita nelangsa waktu akan terasa lambat sampai-sampai terasa berhenti. Yah, kau tau kebenarannya bukan? waktu tidak pernah dipercepat maupun diperlambat, ia tetap. Setidaknya aku faham, mengapa sering diberitakan kelak sebagian manusia pada saat dibangkitkan akan berkata “mengapa hidup kami terlalu singkat Tuhan? hingga kami tak Kau beri kesempatan bertaubat!” padahal, tuhan tidak pernah tidak adil membagi waktu-Nya.
Aku tidak akan menceritakan waktu dan kehebatannya. Terlalu komplek dan bukan ranahku. Ini semua tentang kau dan waktu. Dua hal yang berbeda namun hakekat dan peruntukannya sama. Hakekatnya : kau beserta waktu, diciptakan tuhan sekali dan satu satunya. Peruntukkannya: untuk aku nikmati dengan tempo yang entah.
Selalu terlintas tanda tanya, “dari apa kau diciptakan?”. Ya, aku tidak bodoh dan aku beriman. Manusia memang diciptakan dari tanah dan aku percaya!. Tapi bukan itu yang kumaksudkan. Herannya, tuhan layaknya menciptakan kau dengan tambahan zat dan unsur tertentu, di endapkannya pada hatiku, di katalis oleh waktu hingga strukturnya melekat, membaur, melebur, pekat, susah di uraikan. Makin waktu berlalu makin pula kau rasuki lubukku. Memandangmu? Itu terlalu bahaya, lumpuhkan sang waktu.
Bicara kau dan waktu juga tak luput dari si rindu. Betapa jahat si rindu itu, dia sangat menitik beratkan kamu dan tak memperhatikan waktu. Tak adil bukan?. Rindu memang begitu, dimanapun, kapanpun sama perihalnya: kamu!. Dia jajah pola fikirku, dijarahnya logikaku digantinya dengan cemas dan khawatir. Sialnya, ia juga mampu memonopoli alam bawah sadar, satu satunya tempat aman sembunyi dari kau dan waktu, ya, bunga tidurku direnggutnya.  Kejam memang si rindu itu, memperkosa nikmatnya ketenanganku. Habis sudah! Kini aku mengandung hausya “pertemuan”.
Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa yang kamu tau tentang waktu dan aku?. Mungkinkah aku terkikis oleh gelombang waktu? Ah apapun jawabanmu tidak terlalu penting bagiku. Yang jelas kau akan selalu berdetak sepanjang perjalanku layaknya detak jarum jam yang menunjukkan sedetik waktu baik sebagai masa depan maupun kenangan.
-Candra Windu, 7/8/2016-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar