Sebagai penikmat sepi, kesunyian
wajib aku temui setiap hari. Bukan anti-sosial, ini merujuk ke kepribadian.
Waktu terasa lebih berharga dengan menyelami diri : introspeksi. Hening jalan
terbaik menjalin kasih dengan hati. Itu menurutku.
Alhasil, belakangan kamu
mulai tidak nyaman karena itu. Mulai risih. Merasa aku tidak lagi menghargai
“kita”.
Aku sadar, beberapa
pertengkaran kita akar dan sumbernya dari ketidak mampuanku memuaskan rindumu. Hal
itu berimbas mengikisnya penjara tanda tanya di pikiranmu. Mungkin kau mengira
“kita” pada aku tak lagi utuh.
Sungguh, aku tidak
bermaksud demikian. Aku menghargai apa yang terjalin diantara kita, aku rawati
itu. Aku anggap semua yang ada padamu, padaku, pada kita, dulu, sekarang, nanti
merupakan hadiah tuhan paling tak terduga dan wajib aku terima untuk disyukuri.
Sayangnya kata “usai”
terlalu cepat bergemuruh di benakmu sebelum maaf darimu dan engkau amin-kan
lewat kepergian. Aku tidak bisa berbuat banyak tentang itu. Aku hargai pilihanmu.
Setidaknya kamu puas ikuti kata hatimu yang tidak mengindahkan apa kata hatiku.
Tapi, salahkah aku yang
demikian?
Salahkah memberi waktu
untuk mengenal rindu, memberi jarak untuk mendewasakan, mengajarkan rindu apa
arti sabar?. atau Setidaknya beri aku ruang merubah. Beri kesempatan mengenalkanmu
pada rindu yang sering berbincang dengan kesendirianku, singgahlah sejenak
untuk berbincang dengannya hingga kau sadar perbedaan rindu bagiku dan rindu
bagimu. Cukup itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar