Melihatmu nyaman disampingnya, terasa
sedikit lega, walaupun hati masih sepanas bara.
Setidaknya bahuku tak lagi dibebani
tanggung jawab membahagiakanmu walaupun aku merasakan kebahagiaan pada beban itu.
Sekarang tugasku adalah mencabut duri
yang masih terpatri. Namun, aku masih berpikiran menyisakan sedikit untuk aku nikmati.
Mungkin untuk memperingati sakit yang terpaksa tercicipi saat denganmu saling
berbagi.
Aku harap hatiku berkenan memberi namamu
ruang bernapas walau sekedar bias. Aku harus terbiasa jikapun perih masih
terasa saat kita saling sapa. Juga doa yang dulu tersusun panjang, beberapa
kalimatnya harus aku buang. Kalimat yang dulu namamu tersirat, agar takdir kita
terikat segera aku beri sekat selagi sempat.
Aku harap, dia menemukan kepingan doaku
yang berserakan lalu pada doanya kini disisipkan. Beritahu dia agar selalu
rajin melantunkan. Bersungguh-sungguh dan teguh hingga dengan doa tersebut
kalian berdua dapat berteduh. Aku serahkan sisa lanjutan cerita kita padanya
sembari aku meredakan duka. Setidaknya, sampai melihat senyummu aku jadi merasa
biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar