Biasanya lantunan-lantunan ceritamu paling aku tunggu tiap kali kita
bertatap muka. Mungkin jika kamu menuntut memberi alasan kenapa aku begitu
mengilaimu, celotehanmu alasannya. Yah walaupun sebenarnya aku tidak pernah tau
mengapa hatiku dijatuhkan kepadamu dan tidak akan pernah ada alasannya karena
cinta memang seharusnya tanpa alasan.
Namun, belakangan aku mulai kesal. Isi dari ceritamu tidak lagi aku
sukai. Ini dan itunya sudah tak lagi menarik malah terasa mencekik. Intinya
kamu mulai menceritakan komentar orang lain tentang ikatan kita; tentang
perbedaan kitadan apesnya kamu mulai terhipnotis hal itu hingga jadi sering
uring-uringan.
Aku mengerti , kita memang sering saling silang pendapat, sering
berselisih, tidak cocok antara ini itu dan banyak tetek bengek lainnya. Aku paham itu. Namun bukankah memang hubungan
kita berpondasi pada berbedaan tersebut. Bukan kah kau pernah bilang bahwa kau
asam digunung dan aku garam dilaut yang secara ajaib bisa dipertemukan tangan
takdir. Bawasannya asam dan garam memang beda dari segi dan sudut pandang
manapun bukan?. Lalu mengapa kau mulai risih perkataan mereka?. Bukankah tujuan
hubungan kita memang melestarikan perbedaan hingga beda sudah menjadi sesuatu
hal yang biasa buat kita kelak.
Menurutku, boleh saja kamu mempercayai pendapat mereka tentang kita
yang beda. Boleh saja kau ikut merasakan kekawatiran mereka tentang perbedaan
kita, tentang mitos bahwa beda akan timbulkan petaka. Namun satu hal yang aku
tekankan, ucapan dan pendapat mereka cuma tinjauan pustaka pada BAB II di
skripsi hubungan kita. Tentang hasilnya kita yang menjalani lewat lika liku
penelitian, uji demi uji, tahap demi tahap, prosedur demi prosedur hingga
hasilnya mendapatkan kesimpulan dan saran yang mutlak, bukan bersumber
hipotesis yang masih diakhiri tanda tanya dari mulut mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar