Minggu, 25 September 2016

Hubungan kita, bukan mereka.



Biasanya lantunan-lantunan ceritamu paling aku tunggu tiap kali kita bertatap muka. Mungkin jika kamu menuntut memberi alasan kenapa aku begitu mengilaimu, celotehanmu alasannya. Yah walaupun sebenarnya aku tidak pernah tau mengapa hatiku dijatuhkan kepadamu dan tidak akan pernah ada alasannya karena cinta memang seharusnya tanpa alasan.

Namun, belakangan aku mulai kesal. Isi dari ceritamu tidak lagi aku sukai. Ini dan itunya sudah tak lagi menarik malah terasa mencekik. Intinya kamu mulai menceritakan komentar orang lain tentang ikatan kita; tentang perbedaan kitadan apesnya kamu mulai terhipnotis hal itu hingga jadi sering uring-uringan.

Aku mengerti , kita memang sering saling silang pendapat, sering berselisih, tidak cocok antara ini itu dan banyak tetek bengek lainnya. Aku paham itu. Namun bukankah memang hubungan kita berpondasi pada berbedaan tersebut. Bukan kah kau pernah bilang bahwa kau asam digunung dan aku garam dilaut yang secara ajaib bisa dipertemukan tangan takdir. Bawasannya asam dan garam memang beda dari segi dan sudut pandang manapun bukan?. Lalu mengapa kau mulai risih perkataan mereka?. Bukankah tujuan hubungan kita memang melestarikan perbedaan hingga beda sudah menjadi sesuatu hal yang biasa buat kita kelak.

Menurutku, boleh saja kamu mempercayai pendapat mereka tentang kita yang beda. Boleh saja kau ikut merasakan kekawatiran mereka tentang perbedaan kita, tentang mitos bahwa beda akan timbulkan petaka. Namun satu hal yang aku tekankan, ucapan dan pendapat mereka cuma tinjauan pustaka pada BAB II di skripsi hubungan kita. Tentang hasilnya kita yang menjalani lewat lika liku penelitian, uji demi uji, tahap demi tahap, prosedur demi prosedur hingga hasilnya mendapatkan kesimpulan dan saran yang mutlak, bukan bersumber hipotesis yang masih diakhiri tanda tanya dari mulut mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar