Rabu, 05 Oktober 2016

Hingga Bisa biasa



Melihatmu nyaman disampingnya, terasa sedikit lega, walaupun hati masih sepanas bara.
Setidaknya bahuku tak lagi dibebani tanggung jawab membahagiakanmu walaupun aku merasakan kebahagiaan pada beban itu.
Sekarang tugasku adalah mencabut duri yang masih terpatri. Namun, aku masih berpikiran menyisakan sedikit untuk aku nikmati. Mungkin untuk memperingati sakit yang terpaksa tercicipi saat denganmu saling berbagi.
Aku harap hatiku berkenan memberi namamu ruang bernapas walau sekedar bias. Aku harus terbiasa jikapun perih masih terasa saat kita saling sapa. Juga doa yang dulu tersusun panjang, beberapa kalimatnya harus aku buang. Kalimat yang dulu namamu tersirat, agar takdir kita terikat segera aku beri sekat selagi sempat.
Aku harap, dia menemukan kepingan doaku yang berserakan lalu pada doanya kini disisipkan. Beritahu dia agar selalu rajin melantunkan. Bersungguh-sungguh dan teguh hingga dengan doa tersebut kalian berdua dapat berteduh. Aku serahkan sisa lanjutan cerita kita padanya sembari aku meredakan duka. Setidaknya, sampai melihat senyummu aku jadi merasa biasa.      

Minggu, 25 September 2016

Hubungan kita, bukan mereka.



Biasanya lantunan-lantunan ceritamu paling aku tunggu tiap kali kita bertatap muka. Mungkin jika kamu menuntut memberi alasan kenapa aku begitu mengilaimu, celotehanmu alasannya. Yah walaupun sebenarnya aku tidak pernah tau mengapa hatiku dijatuhkan kepadamu dan tidak akan pernah ada alasannya karena cinta memang seharusnya tanpa alasan.

Namun, belakangan aku mulai kesal. Isi dari ceritamu tidak lagi aku sukai. Ini dan itunya sudah tak lagi menarik malah terasa mencekik. Intinya kamu mulai menceritakan komentar orang lain tentang ikatan kita; tentang perbedaan kitadan apesnya kamu mulai terhipnotis hal itu hingga jadi sering uring-uringan.

Aku mengerti , kita memang sering saling silang pendapat, sering berselisih, tidak cocok antara ini itu dan banyak tetek bengek lainnya. Aku paham itu. Namun bukankah memang hubungan kita berpondasi pada berbedaan tersebut. Bukan kah kau pernah bilang bahwa kau asam digunung dan aku garam dilaut yang secara ajaib bisa dipertemukan tangan takdir. Bawasannya asam dan garam memang beda dari segi dan sudut pandang manapun bukan?. Lalu mengapa kau mulai risih perkataan mereka?. Bukankah tujuan hubungan kita memang melestarikan perbedaan hingga beda sudah menjadi sesuatu hal yang biasa buat kita kelak.

Menurutku, boleh saja kamu mempercayai pendapat mereka tentang kita yang beda. Boleh saja kau ikut merasakan kekawatiran mereka tentang perbedaan kita, tentang mitos bahwa beda akan timbulkan petaka. Namun satu hal yang aku tekankan, ucapan dan pendapat mereka cuma tinjauan pustaka pada BAB II di skripsi hubungan kita. Tentang hasilnya kita yang menjalani lewat lika liku penelitian, uji demi uji, tahap demi tahap, prosedur demi prosedur hingga hasilnya mendapatkan kesimpulan dan saran yang mutlak, bukan bersumber hipotesis yang masih diakhiri tanda tanya dari mulut mereka.

Selasa, 20 September 2016

Salahkan yang demikian?



Sebagai penikmat sepi, kesunyian wajib aku temui setiap hari. Bukan anti-sosial, ini merujuk ke kepribadian. Waktu terasa lebih berharga dengan menyelami diri : introspeksi. Hening jalan terbaik menjalin kasih dengan hati. Itu menurutku.

Alhasil, belakangan kamu mulai tidak nyaman karena itu. Mulai risih. Merasa aku tidak lagi menghargai “kita”.

Aku sadar, beberapa pertengkaran kita akar dan sumbernya dari ketidak mampuanku memuaskan rindumu. Hal itu berimbas mengikisnya penjara tanda tanya di pikiranmu. Mungkin kau mengira “kita” pada aku tak lagi utuh.

Sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Aku menghargai apa yang terjalin diantara kita, aku rawati itu. Aku anggap semua yang ada padamu, padaku, pada kita, dulu, sekarang, nanti merupakan hadiah tuhan paling tak terduga dan wajib aku terima untuk disyukuri.

Sayangnya kata “usai” terlalu cepat bergemuruh di benakmu sebelum maaf darimu dan engkau amin-kan lewat kepergian. Aku tidak bisa berbuat banyak tentang itu. Aku hargai pilihanmu. Setidaknya kamu puas ikuti kata hatimu yang tidak mengindahkan apa kata hatiku.

Tapi, salahkah aku yang demikian? 

Salahkah memberi waktu untuk mengenal rindu, memberi jarak untuk mendewasakan, mengajarkan rindu apa arti sabar?. atau Setidaknya beri aku ruang merubah. Beri kesempatan mengenalkanmu pada rindu yang sering berbincang dengan kesendirianku, singgahlah sejenak untuk berbincang dengannya hingga kau sadar perbedaan rindu bagiku dan rindu bagimu. Cukup itu.

-Candra Windu,19/9/2016-     

Kamu dan Waktu



Betapa tak tertandingi ciptaan tuhan yang satu ini : Waktu. Pernah dengar teori relatifitas nya?. Orang bilang waktu itu ajaib, sihir!. Sampai begitu sakralnya, waktu dijadikan pedoman, banyak aturan ditetapkan berdasar waktu. Anehnya, saat kita bahagia waktu akan terasa sangat cepat, pun sebaliknya, waktu kita nelangsa waktu akan terasa lambat sampai-sampai terasa berhenti. Yah, kau tau kebenarannya bukan? waktu tidak pernah dipercepat maupun diperlambat, ia tetap. Setidaknya aku faham, mengapa sering diberitakan kelak sebagian manusia pada saat dibangkitkan akan berkata “mengapa hidup kami terlalu singkat Tuhan? hingga kami tak Kau beri kesempatan bertaubat!” padahal, tuhan tidak pernah tidak adil membagi waktu-Nya.
Aku tidak akan menceritakan waktu dan kehebatannya. Terlalu komplek dan bukan ranahku. Ini semua tentang kau dan waktu. Dua hal yang berbeda namun hakekat dan peruntukannya sama. Hakekatnya : kau beserta waktu, diciptakan tuhan sekali dan satu satunya. Peruntukkannya: untuk aku nikmati dengan tempo yang entah.
Selalu terlintas tanda tanya, “dari apa kau diciptakan?”. Ya, aku tidak bodoh dan aku beriman. Manusia memang diciptakan dari tanah dan aku percaya!. Tapi bukan itu yang kumaksudkan. Herannya, tuhan layaknya menciptakan kau dengan tambahan zat dan unsur tertentu, di endapkannya pada hatiku, di katalis oleh waktu hingga strukturnya melekat, membaur, melebur, pekat, susah di uraikan. Makin waktu berlalu makin pula kau rasuki lubukku. Memandangmu? Itu terlalu bahaya, lumpuhkan sang waktu.
Bicara kau dan waktu juga tak luput dari si rindu. Betapa jahat si rindu itu, dia sangat menitik beratkan kamu dan tak memperhatikan waktu. Tak adil bukan?. Rindu memang begitu, dimanapun, kapanpun sama perihalnya: kamu!. Dia jajah pola fikirku, dijarahnya logikaku digantinya dengan cemas dan khawatir. Sialnya, ia juga mampu memonopoli alam bawah sadar, satu satunya tempat aman sembunyi dari kau dan waktu, ya, bunga tidurku direnggutnya.  Kejam memang si rindu itu, memperkosa nikmatnya ketenanganku. Habis sudah! Kini aku mengandung hausya “pertemuan”.
Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa yang kamu tau tentang waktu dan aku?. Mungkinkah aku terkikis oleh gelombang waktu? Ah apapun jawabanmu tidak terlalu penting bagiku. Yang jelas kau akan selalu berdetak sepanjang perjalanku layaknya detak jarum jam yang menunjukkan sedetik waktu baik sebagai masa depan maupun kenangan.
-Candra Windu, 7/8/2016-