Betapa tak tertandingi ciptaan tuhan
yang satu ini : Waktu. Pernah dengar teori relatifitas nya?. Orang bilang waktu
itu ajaib, sihir!. Sampai begitu sakralnya, waktu dijadikan pedoman, banyak
aturan ditetapkan berdasar waktu. Anehnya, saat kita bahagia waktu akan terasa
sangat cepat, pun sebaliknya, waktu kita nelangsa
waktu akan terasa lambat sampai-sampai terasa berhenti. Yah, kau tau kebenarannya
bukan? waktu tidak pernah dipercepat maupun diperlambat, ia tetap. Setidaknya aku
faham, mengapa sering diberitakan kelak sebagian manusia pada saat dibangkitkan
akan berkata “mengapa hidup kami terlalu singkat Tuhan? hingga kami tak Kau
beri kesempatan bertaubat!” padahal, tuhan tidak pernah tidak adil membagi
waktu-Nya.
Aku tidak akan menceritakan waktu dan
kehebatannya. Terlalu komplek dan bukan ranahku. Ini semua tentang kau dan
waktu. Dua hal yang berbeda namun hakekat dan peruntukannya sama. Hakekatnya :
kau beserta waktu, diciptakan tuhan sekali dan satu satunya. Peruntukkannya: untuk
aku nikmati dengan tempo yang entah.
Selalu terlintas tanda tanya, “dari apa
kau diciptakan?”. Ya, aku tidak bodoh dan aku beriman. Manusia memang
diciptakan dari tanah dan aku percaya!. Tapi bukan itu yang kumaksudkan.
Herannya, tuhan layaknya menciptakan kau dengan tambahan zat dan unsur
tertentu, di endapkannya pada hatiku, di katalis oleh waktu hingga strukturnya melekat,
membaur, melebur, pekat, susah di uraikan. Makin waktu berlalu makin pula kau
rasuki lubukku. Memandangmu? Itu terlalu bahaya, lumpuhkan sang waktu.
Bicara kau dan waktu juga tak luput dari
si rindu. Betapa jahat si rindu itu, dia sangat menitik beratkan kamu dan tak
memperhatikan waktu. Tak adil bukan?. Rindu memang begitu, dimanapun, kapanpun sama
perihalnya: kamu!. Dia jajah pola fikirku, dijarahnya logikaku digantinya
dengan cemas dan khawatir. Sialnya, ia juga mampu memonopoli alam bawah sadar,
satu satunya tempat aman sembunyi dari kau dan waktu, ya, bunga tidurku
direnggutnya. Kejam memang si rindu itu,
memperkosa nikmatnya ketenanganku. Habis sudah! Kini aku mengandung hausya
“pertemuan”.
Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa yang
kamu tau tentang waktu dan aku?. Mungkinkah aku terkikis oleh gelombang waktu?
Ah apapun jawabanmu tidak terlalu penting bagiku. Yang jelas kau akan selalu
berdetak sepanjang perjalanku layaknya detak jarum jam yang menunjukkan sedetik
waktu baik sebagai masa depan maupun kenangan.
-Candra
Windu, 7/8/2016-